Mengapa Saya Suka Game X? Analisis Mendalam tentang Daya Tarik dan Cara Menemukan Game yang Cocok dengan Selera Anda
Kamu pernah nggak, habis main sebuah game sampai berjam-jam, lalu ditanya teman, “Eh, game itu seru ya?” Dan kamu cuma bisa bengong, “Iya… seru sih.” Tapi kalau disuruh jelasin kenapa seru, otak langsung blank. Atau lebih parah, kamu ikut-ikutan beli game yang lagi hype, cuma buat dimainin 30 menit lalu bosan. Pernah? Saya sering banget dulu. Sampai akhirnya saya sadar: memahami alasan suka game bukan cuma buat jawab pertanyaan orang, tapi kunci untuk menemukan game sesuai selera kita sendiri, biar nggak buang-buang uang dan waktu.
Artikel ini nggak cuma ngasih rekomendasi game. Kita akan bedah preferensi kamu sampai ke akar-akarnya, pakai kerangka yang saya kembangkan setelah 15 tahun jadi pemain dan menganalisis ratusan judul. Targetnya? Setelah baca ini, kamu bisa dengan percaya diri bilang, “Saya suka game ini karena X, Y, Z,” dan punya peta untuk mencari game berikutnya yang bakal bikin kamu ketagihan.

Membongkar “Rasa Suka”: Ini Lebih dari Sekadar “Seru”
Kebanyakan kita berhenti di kata “seru”. Tapi “seru” itu samar. Mari kita urai menjadi komponen yang lebih konkret, berdasarkan pengalaman saya main dari RPG klasik sampai indie eksperimental.
1. The Core Loop: Ritual yang Bikin Ketagihan
Ini jantungnya. Core loop adalah rangkaian aksi dasar yang terus kamu ulang. Di Stardew Valley, loop-nya adalah: bangun -> rawat tanaman/ternak -> jual -> upgrade alat -> tidur -> ulang. Sederhana, tapi memuaskan karena progresnya terlihat jelas.
Saya pernah terjebak berminggu-minggu di game manajemen pabrik Satisfactory. Kenapa? Karena loop menemukan sumber daya -> membangun lini produksi -> mengotomatisasi -> memperluas itu memberikan kepuasan gila. Otak saya terstimulasi oleh puzzle logistik yang terus berkembang. Jika kamu suka game yang bikin “satu jam lagi deh”, coba identifikasi loop-nya. Apakah itu memecahkan teka-teki (Portal), menaklukkan musuh (Hades), atau bernegosiasi (Disco Elysium)?
2. Estetika dan Atmosfer: “Vibe” yang Pas
Ini hal pertama yang menarik. Bukan cuma grafik bagus, tapi bagaimana seni, suara, dan musik menciptakan dunia. Saya jatuh cinta pada Hollow Knight bukan karena gameplay metroidvania-nya (walau bagus), tapi karena atmosfer Hallownest yang melankolis, sunyi, dan penuh misteri. Setiap area punya “rasa” sendiri.
Sebaliknya, saya kesulitan masuk ke game bergenre serupa dengan grafik pixel yang terlalu ramai dan warna mencolok. Preferensi ini sangat personal. Ada yang butuh dunia terbuka yang cerah dan penuh harapan (The Legend of Zelda: Breath of the Wild), ada yang justri mencari ketegangan dan horor (Resident Evil Village). Tanyakan pada diri sendiri: dunia game seperti apa yang ingin kamu tinggali?
3. Narasi dan Karakter: Apakah Ceritanya Menarik?
Di sini kita bagi dua: game-driven narrative dan story-driven game.
- Game-driven: Cerita ada sebagai konteks untuk gameplay. Plot Doom Eternal sederhana: iblis ada, bunuh. Tapi itu cukup! Fokusnya ada di pertarungan.
- Story-driven: Gameplay melayani cerita. The Last of Us Part II, misalnya, menggunakan mekanik stealth dan pertarungan yang brutal secara sengaja untuk membuat kamu merasakan beban emosional yang sama dengan karakternya, seperti yang diungkapkan Neil Druckmann dalam wawancara dengan [请在此处链接至: IGN]. Pilihan ini penting. Saya sendiri lebih suka cerita yang emergen—cerita yang lahir dari gameplay, seperti persekutuan tak terduga dengan NPC di Elden Ring atau kegagalan lucu dalam Rainbow Six Siege.
Kerangka Analisis Diri: “Game Preference DNA” Kamu
Daripada nebak-nebak, kita buat sistemnya. Coba jawab pertanyaan ini dengan jujur, bayangkan game favorit kamu:
- Apa yang lebih kamu nikmati: Proses atau Hasil?
- Proses: Menikmati saat membangun kota di Cities: Skylines, meski berantakan. Atau mengeksplor setiap sudut peta.
- Hasil: Kepuasan saat mengalahkan boss akhir yang sulit atau melihat angka damage meledak.
- Kamu pemain “Bunga” atau “Lebah”? (Analogi dari desainer game Marc LeBlouch)
- Bunga: Suka menetap di satu sistem yang dalam, menguasainya sepenuhnya (contoh: menguasai semua combo satu karakter di Street Fighter 6).
- Lebah: Suka berpindah-pindah dari satu mekanik ke mekanik lain, mencoba berbagai hal (contoh: main 10 game berbeda dalam sebulan).
- Toleransi terhadap “Friction”: Friction adalah halangan yang disengaja.
- Tinggi: Menikmati perencanaan inventory yang rumit (DayZ), perjalanan panjang tanpa fast-travel, kemungkinan gagal permanen (permadeath).
- Rendah: Ingin langsung ke aksi, sistem yang intuitif, checkpoint yang sering.
Dari sini, profil kamu mulai terbentuk. Misal, saya adalah: Pencari Proses + Lebah + Toleransi Friction Sedang. Itu sebabnya saya suka game roguelike (Hades) dan simulator eksperimen (PowerWash Simulator), tapi cepat bosan dengan game MMO yang membutuhkan grind berjam-jam untuk satu level.
Melampaui Genre: Mencari Game Baru dengan “Peta Preferensi”
Genre (RPG, FPS, dll) sering menyesatkan. Cyberpunk 2077 dan Final Fantasy VII Remake sama-sama RPG, tapi pengalaman mainnya jauh berbeda. Lebih baik cari berdasarkan “rasa” atau fitur yang kamu sukai.
Contoh Pencarian Berdasarkan “DNA” Saya:
- Suka Hades (Action Roguelike, Progresi jelas, Narasi emergen) → Coba: Dead Cells (lebih fokus pada platforming dan eksplorasi), atau Returnal (roguelike third-person shooter dengan atmosfer psikologis yang intens).
- Suka Stardew Valley (Simulasi kehidupan, Loop yang menenangkan, Kebebasan kreatif) → Coba: Dinkum (gaya Australia, lebih fokus pada eksplorasi), atau Coral Island (gaya Indonesia, dengan elemen konservasi laut).
Tools yang Membantu:
- “More Like This” di Steam: Seringkali akurat, tapi jangan hanya mengandalkan ini.
- Ulasan Pemain di Steam/Forum: Cari ulasan yang menjelaskan “rasa” game, bukan sekadar nilai. Ulasan yang bilang “game ini cocok jika kamu suka…” sangat berharga.
- Sistem Rekomendasi yang Lebih Cerdas: Coba situs seperti GG.deals atau HowLongToBeat. Yang terakhir bahkan membiarkan kamu mencari game berdasarkan “mood” (misalnya, “Relaxing”).
Peringatan Penting (Trustworthiness): Tidak ada game yang sempurna. Elden Ring punya dunia yang menakjubkan, tapi ko-op-nya ribet dan ceritanya tersembunyi. The Sims 4 sangat kreatif, tapi DLC-nya mahal. Mengakui kelemahan justru membantu kamu memutuskan apakah kelemahan itu “deal-breaker” atau tidak.
Menerapkan “Game Literacy”: Dari Pemain Pasif Menjadi Kurator Aktif
Setelah kamu paham preferensi sendiri, kamu bisa lebih selektif. Saya sekarang jarang membeli game di hari pertama. Saya tonton gameplay-nya (bukan trailer cinematic), baca analisis mendalam dari media seperti [请在此处链接至: Rock Paper Shotgun], dan tanya: “Apakah core loop-nya terdengar seperti sesuatu yang akan saya nikmati selama 20 jam?”
Ini juga mengubah cara saya memainkan game. Jika saya tahu saya seorang “Lebah”, saya tidak memaksakan diri untuk 100% menyelesaikan sebuah game jika saya sudah bosan. Itu okay. Gaming adalah hobi, bukan pekerjaan.
Langkah Aksi Hari Ini:
- Ambil 3 game favorit kamu.
- Analisis masing-masing menggunakan pertanyaan di bagian “Game Preference DNA”.
- Cari pola. Apakah mereka semua punya cerita yang kuat? Atau gameplay loop yang cepat? Atau dunia terbuka?
- Gunakan pola itu untuk mengevaluasi game wishlist kamu berikutnya.
Dengan begini, kamu tidak lagi sekadar mengatakan “saya suka game ini.” Kamu bisa berkata, “Saya suka game ini karena core loop-nya yang memuaskan, atmosfernya yang immersive, dan memberi saya kebebasan untuk bereksperimen.” Itu adalah kekuatan sebenarnya dari memahami analisis preferensi game kamu.
FAQ: Pertanyaan yang Sering Ditanyakan Pemain Lain
Q: Saya suka banyak jenis game yang berbeda (RPG, FPS, Simulator). Apakah preferensi saya tidak konsisten?
A: Sama sekali tidak! Itu justru menunjukkan kamu adalah pemain “Lebah” atau memiliki “Broad Taste”. Itu hal yang bagus. Coba cari benang merah di level yang lebih dalam: mungkin kamu suka game dengan sistem progresi karakter yang dalam (baik di RPG maupun di skill-based shooter seperti Apex Legends), atau game yang memungkinkan ekspresi kreatif.
Q: Apa artinya “I Like OJ” yang sering saya lihat di komunitas game?
A: “I Like OJ” atau “Oke Jadi” seringkali adalah ekspresi santai untuk menunjukkan persetujuan atau bahwa sesuatu itu keren/cocok. Dalam konteks game recommendation personalized, ini bisa berarti seseorang setuju bahwa rekomendasi game tersebut cocok dengan selera yang dibicarakan. Ini bahasa slang komunitas untuk konfirmasi yang cepat.
Q: Bagaimana cara menemukan game indie yang bagus yang sesuai dengan selera niche saya?
A: Ikuti kurator atau content creator spesifik di Steam dan YouTube yang seleranya sejalan dengan kamu. Seringkali, YouTuber yang fokus pada satu genre (misal, horror indie atau metroidvania) adalah sumber rekomendasi terbaik. Jangan ragu bergabung dengan Discord server komunitas game kecil; diskusi di sana seringkali sangat mendalam.
Q: Saya sering bosan di tengah game. Apakah saya yang salah?
A: Tidak. Bisa jadi game itu tidak sesuai dengan “DNA” kamu, atau memang memiliki pacing yang buruk. Coba identifikasi titik di mana kamu bosan. Apakah saat grind? Saat cerita bertele-tele? Itu adalah data berharga tentang friction apa yang tidak kamu toleransi. Berhenti memainkan game yang tidak menyenangkan adalah bentuk self-respect sebagai pemain.
Q: Apakah rating di Metacritic penting?
A: Sebagai guideline awal, iya. Tapi jangan dijadikan patokan mutlak. Lihatlah User Score dan baca komentar pemain. Seringkali game dengan skor kritik 85+ tapi user score 7.0 adalah game yang secara teknis bagus tapi punya elemen kontroversial (misal, monetisasi atau ending) yang mungkin mengganggu kamu secara pribadi.